Harga BBM sudah dipastikan tetap akan naik meskipun protes dan tentangan banyak berdatangan. Entah apa pertimbangan pemerintah kita saat mengambil keputusan untuk menaikan harga BBM. Bila alasan dari kenaikan ini mencegah kebangkrutan negeri ini, maka ini merupakan hal yang memalukan yang pernah saya dengar.
Indonesia adalah negeri yang kaya akan sumber daya alam tapi kenapa masih banyak masyarakat kita yang miskin. Lucunya, Indonesia sebagai salah satu negara anggota OPEC yang notabene adalah penghasil minyak tapi BBM kita harus impor bahkan harganya terus terkatrol oleh harga internasional.
Dirjen Migas Dept. ESDM, Iin Arifin Takhyan, di Majalah Trust (edisi 11/2004), menyatakan terdapat 105 perusahaan yang sudah mendapat izin untuk bermain di sektor hilir migas, termasuk membuka stasiun pengisian BBM untuk umum (SPBU). Perusahaan migas raksasa itu antara lain British Petrolium (Amerika-Inggris), Shell (Belanda), Petro China (RRC), Petronas (Malaysia), dan Chevron-Texaco (Amerika)
Dikutip dari eramuslim.com, Ketua Serikat Pekerja Pertamina, Abdullah Sodik menyatakan “Wajar bila kemudian minyak dan gas yang ada di Indonesia ini sebagian besar dikuasai asing. Tercatat dari 60 kontraktor, 5 di antaranya dalam kategori super major, yakni ExxonMobil, ShellPenzoil, TotalFinaEIf, BPAmocoArco, dan ChevronTexaco, yang menguasai cadangan minyak 70 persen dan gas 80 persen. Selebihnya masuk kategori Major, seperti Conoco, Repsol, Unocal, Santa Fe, Gulf, Premier, Lasmo, Inpex, Japex, yang menguasai cadangan minyak 18 persen dan gas 15 persen. “Sedangkan perusahaan independent menguasi cadangan minyak 12 persen, dan gas 5 persen, ”
Dan Ekonom Tim Indonesia Bangkit, Hendri Saparini, juga tidak sepakat bila harga BBM dinaikkan. Pertimbangannya adalah ekonomi. Ketika pemerintah mengatakan kita akan kolaps kalau tidak segera menaikkan harga BBM, maka publik harus tahu bahwa yang dimaksud kolaps menurut pemerintah itu adalah APBN. Sementara APBN itu terhadap kue ekonomi besarnya hanya 20 persen. “Jadi kalau harga BBM dinaikan, maka yang kena dampaknya 80 persen adalah rumah tangga dan industri, ” ujarnya.




