“Mendidik seorang pria kita hanya membangun individu sedangkan mendidik seorang wanita berarti kita membangun bangsa”, ini adalah salah satu petikan kalimat favorit saya yang saya ambil dari sebuah artikel di internet. Begitu besar peran wanita dalam mempengaruhi perkembangan sebuah bangsa hingga tidak salah bila Islam begitu menghargai harkat dan martabat wanita serta begitu memuliakan mereka.
Dalam islam wanita juga memiliki hak-hak yang sama dengan kaum laki-laki, kecuali beberapa hak dan hukum yang memang khusus bagi kaum wanita, atau beberapa hak dan hukum yang khusus bagi kaum laki-laki yang layak bagi masing-masing jenis sebagaimana dijelaskan secara rinci di dalam bahasan-bahasannya (Al-Manhaj).
Islam memandang wanita sebagai sosok yang berperan paling besar dalam mentarbiyah (mendidik) generasi yang telah dipersiapkan oleh Allah, baik secara fisik maupun jiwa. Wajib bagi wanita untuk tidak melupakan risalah yang mulia ini disebabkan karena pengaruh materi atau modernisasi apa pun adanya, karena tidak ada seorang pun yang mampu melakukan tugas agung ini yang sangat menentukan masa depan ummat kecuali dia. Dengan demikian maka kekayaan ummat akan semakin baik, itulah kekayaan sumber daya manusia (Dr. Yusuf Qardhawi).
Mantan pendeta asal Amerika Serikat (AS) yang memeluk Islam sejak 1991, Yusuf Estes, mengatakan, Islam merupakan agama yang tidak hanya terpesat perkembangannya di dunia tetapi juga lebih menarik perhatian kaum wanita di berbagai belahan dunia.”Perbandingan antara wanita dan pria yang memeluk Islam adalah 10 berbanding dua,” katanya di depan ratusan orang warga Kristen dan Muslim yang memadati aula kota (city hall) Brisbane, Australia untuk mendengarkan ceramahnya tentang Islam yang damai.
“Mengapa lebih banyak wanita yang memeluk Islam dari kaum pria? Apakah karena mereka mau dipukuli (pria Muslim)?” katanya bergurau untuk menepis anggapan keliru sejumlah pihak di luar Islam bahwa hak-hak wanita tidak dihormati dalam Islam.
Islam tidak menyalahkan kaum wanitanya atas apa yang dilakukan oleh Hawa yang bersama Nabi Adam memakan buah kuldi yang dilarang Allah SWT sehingga mereka diturunkan ke bumi dan diampuni Allah kekhilafan mereka. “Dalam Islam, kita (setiap manusia) bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan…,” (hidayatullah.com)




